Arti Kebahagiaan
Malem ini iseng-iseng nonton acara Hitam Putih di youtube. I really love this talkshow, Deddy itu pinter banget, bawain acaranya fresh, berkelas, kadang kalo lagi nonton acara ini tu kita bisa liat loh (Sorry to say yaa..) mana artis atau bintang tamu yang pinter atau enggak.. hihiiiii Karna biasanya kalo yang pinter dia bisa ngobrol dengan Deddy dan ngimbangin pengetahuannya Deddy.
Tadi saya nonton Hitam Putih episode Arman Maulana & Dewi Gita, kalo mau nonton bisa liat disini. Saya terkagum-kagum sama pasangan ini, betapa Dewi sebagai wanita yang humble bisa tetep tegas sama Arman, dan Arman yang keliatan sangat-sangat sayang, perhatian dan pengertian sama Dewi. Betapa saya menginginkan sosok pria dan keluarga seperti itu :)
Cerita mereka tentang keguguran, membuat saya sedih, berpikir dan mengenang bahwa saya pernah memimpikan seorang malaikat yang sangat cantik, seorang bayi perempuan mungil yang saya impi-impikan, tapi sekarang saya tidak akan pernah bisa mendapatkannya (maybe someday I will, I still dream about that). Keluarga, anak, suami, istri itu semua anugerah. Anugerah yang tak ternilai dibandingkan dengan apapun. Tapi mengapa masih saja ada orang-orang yang menyia-nyiakan anugerah tersebut dan lebih memilih untuk membuangnya. Sungguh itu sebuah Question Of Life yang tidak akan pernah saya mengerti jawabannya.
Di akhir segmen, Deddy membacakan sebuah email kisah inspiratif yang katanya datang dari Cici Arini. Dan ini sungguh sebuah kisah yang garis besar dan benang merahnya tersambung dengan kehidupan saya sekarang. Begini kurang lebih...
Tadi saya nonton Hitam Putih episode Arman Maulana & Dewi Gita, kalo mau nonton bisa liat disini. Saya terkagum-kagum sama pasangan ini, betapa Dewi sebagai wanita yang humble bisa tetep tegas sama Arman, dan Arman yang keliatan sangat-sangat sayang, perhatian dan pengertian sama Dewi. Betapa saya menginginkan sosok pria dan keluarga seperti itu :)
Cerita mereka tentang keguguran, membuat saya sedih, berpikir dan mengenang bahwa saya pernah memimpikan seorang malaikat yang sangat cantik, seorang bayi perempuan mungil yang saya impi-impikan, tapi sekarang saya tidak akan pernah bisa mendapatkannya (maybe someday I will, I still dream about that). Keluarga, anak, suami, istri itu semua anugerah. Anugerah yang tak ternilai dibandingkan dengan apapun. Tapi mengapa masih saja ada orang-orang yang menyia-nyiakan anugerah tersebut dan lebih memilih untuk membuangnya. Sungguh itu sebuah Question Of Life yang tidak akan pernah saya mengerti jawabannya.
Di akhir segmen, Deddy membacakan sebuah email kisah inspiratif yang katanya datang dari Cici Arini. Dan ini sungguh sebuah kisah yang garis besar dan benang merahnya tersambung dengan kehidupan saya sekarang. Begini kurang lebih...
..... Saya adalah perempuan berusia 22 tahun. Yang dalam usiaku ini, aku sudah memiliki malaikat kecil yang berusia 4,5 tahun. Disaat teman sebayaku sekolah sampai tinggi dan sukses, aku tidak bisa melakukan hal tersebut. Aku belajar menjadi "ibu yang sempurna" dimata anak saya. Hingga suatu saat saya bertemu teman saya yang telah sukses dalam pendidikan dan dalam karir. Dia melihat saya, lalu dia berkata padaku seperti ini..
"Kamu tahu gak kebahagiaan itu adalah punya rumah mewah, punya mobil mewah dan punya banyak uang. Dan itu semua bisa di dapatkan dari sekolah yang sukses, kerja yang sukses dan segalanya, tidak memiliki anak di usia muda."
Setelah itu dia bertanya, "kalo kamu, apa arti kebahagiaan?"
Yang berbeda hanyalah, saya 25 tahun, Ibu dari seorang jagoan bernama Gavyn yang berumur 3 tahun. Untuk Cici Arini, terimakasih karena kamu telah membuat saya lebih mengerti kebahagiaan. Dan mengingatkan saya untuk selalu berjuang dan menjadi yang lebih sempurna untuk hidup anak saya :)Aku pun menjawab bahwa arti kebahagiaan untukku saat ini adalah "Melihat anakku sehat dan ada setiap waktu untuk dia, senang ketika melihat dia senyum, dan tertawa disaat keinginannya bisa aku penuhi, dan bisa memandanginya ketika malam dia sedang tertidur pulas. Mungkin terdengar tidak berharga, tapi benar-benar tidak ternilai."
begitulah dunia jaman sekarang memang penuh berbalut materi mbak, itu temannya cici arini, tega amat ya bicara begitu
ReplyDelete